Masuk usia 4-5 tahun, ibu belikan pensil warna dan pakaian. Kita ucapkan terima kasih dengan menconteng dinding dan bergolek atas lantai kotor. Saat usia 6 tahun, ibu memimpin tangan kita ke Tadika.Kita ucapkan terima kasih dengan menjerit," Tak mahu! Tak mahu !". Ketika usia 7 tahun, ibu belikan sebiji bola, kita ucapkan terima kasih dengan memecahkan cermin rumah jiran. Setelah usia 8-9 tahun, ibu menghantar kita ke sekolah, kita ucapkan terima kasih dengan ponteng sekolah. Di usia 10-11 tahun, ibu menghabiskan masa sehari suntuk dengan kita, kita ucapkan terima kasih dengan tidak bertegur sapa dan asyik bermain dengan kawan.
Menjelang usia 13 tahun, ibu suruh pakai pakaian menutup aurat, kita ucapkan terima kasih dengan memberitahu bahawa pakaian itu ketinggalan zaman. Ketika menjangkau 18 tahun, ibu menangis apabila tahu kita di terima masuk universiti , kita ucapkan terima kasih dengan bersuka ria bersama kawan-kawan. Menjelang usia 20 tahun, ibu bertanya apakah kita ada teman istimewa, kita katakan,...." itu bukan urusan ibu.
Saat di taman kanak-kanak, ibu menghantar hingga masuk ke dalam kelas,ibu perlu menunggu di sebelah sana. Aku tak peduli sebanyak manapun pekerjaannya di rumah, aku tak perduli hujan, panas atau rasa bosannya ketika menunggu. Aku senang ibu menungguku sampai lonceng berbunyi. Setelah besar, aku sering meninggalkannya bermain dengan teman-teman dan berseronok.Tak pernah aku menemani ibu ketika sakit, ketika ibu memerlukan pertolongan aku tak pernah ada. Masuk alam remaja, aku sering merasa malu berjalan bersama ibu.
Padahal ibu yang menjagaku sejak kecil, tak pernah memikirkan penampilannya, tak pernah membeli pakaian baru , apalagi perhiasan baru untuknya tapi ibu gunakan untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku kelihatan cantik. Ibu mengangkat tubuhku ketika aku jatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Mulai masuk di Intitut pengajiaan tinggi, aku makin jauh dengannya. Aku yang pintar ini sering kali menganggap ibu orang bodoh dan tak mengerti apa-apa. Ibu yang ku anggap bodoh, tak berwawasan , tak mengerti apa-apa, dan bukan orang berpendidikan, doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya tak pernah berhenti sedetikpun untuk anak-anaknya.
Semua kenangan itu muncul satu persatu di fikiranku. Dalam linangan air mata yang sudah terlambat, terus mengalir kedukaan dan penyesalan.
Dan anda sekarang yang masih mempunyai ibu disamping jangan menjadi seperti aku....seperti ku dulu, memilih untuk memberikan perhatian padanya nanti,tapi sudah terlambat.Benar bahawa kasih Ibu kepada anaknya tak terbatas.....pengorbanan ibu jika dihitung takkan terbalas oleh seorang anak..
Rujukan; http://pmi.eng.usm.my/v2
No comments:
Post a Comment